Sabtu, 20 Oktober 2012

Sangaku, Matematika Persembahan untuk Para Dewa


Solusi geometris diukir di tablet kayu berukir di Zaman Edo Jepang.


Sangaku yang dipersembahkan di Kuil Enmanji, Nara
Sangaku yang dipersembahkan di Kuil Enmanji, Nara (Wikipedia Common)
Sepanjang abad ke-17, ketika matematika berkembang di Barat, melahirkan ilmuwan terkemuka sepanjang masa seperti  Isaac Newton dan Gottfried Wilhelm Leibniz, Jepang yang terisolasi dari dunia mengembangkan tradisi matematikanya sendiri.

Membuat teorama mandiri untuk menjawab pertanyaan kompleks tentang geometri misalnya  berapa lingkaran dalam ukuran tertentu bisa masuk dalam segitiga, tanpa memanfaatkan teknik kalkulus, yang relatif baru kala itu.

Maka di zaman Edo, awal abad ke-17 sampai tahun 1857, para penggila matematika mengilustrasikan solusi geometri menjadi sebuah karya seni, berupa tablet kayu berukir yang disebut Sangaku. Menghiasi dinding kuil Shinto atau Buddha. Sebagai alternatif persembahan, menggantikan uang atau ternak yang lebih lazim.

Mungkin sulit untuk memahami matematika sebagai sebuah seni relijius di masa sekarang. Namun, itulah yang terjadi di Jepang kala itu.

"Tablet Sangaku mungkin yang paling unik di antara kreasi budaya dunia. Ia sekaligus adalah obyek seni, persembahan reliji, dan catatan yang bisa kita sebut sebagai matematikanya rakyat," kata Tony Rothman dari University of Princenton.

Dia menambahkan Sangaku adalah peninggalan budaya yang layak dipertahankan dan dilindungi. "Ini mungkin hanya teka-teki silang versi Jepang era feodal, namun fungsinya  menjaga pikiran mereka tetap tajam."

Saat  Jepang mulai membuka diri, Sangaku nyaris terlupakan. Bahkan, Fukugawa, guru SMA di Jepang  bergelar doktor dalam bidang matematika mengaku, dulu ia menyangka mempelajari tablet kuno sangaku adalah hal yang sia-sia.

"Sampai suatu ketika rekanku, seorang sejarawan meminta bantuan menerjemahkan  sebuah buku tentang subyek itu. Barulah aku menyadari matematikawan Edo telah  menuntaskan problem sulit tanpa alat bantu yang kita miliki saat ini,"kata dia. "Sejak itu aku jatuh cinta pada sangaku." Dia ingin mempertahankannya eksistensi peninggalan leluhurnya itu.

Kakek 63 tahun tersebut membantu penelitian Rothman. Meski
keduanya saling terpisah ribuan kilometer dan tak pernah bertatap muka langsung. Untung, bahasa matematika adalah universal.

Selain terlibat penelitian, Fukugawa mengaku, selalu mencari cara mengajarkan sangaku pada murid-muridnya. Namun harus hati-hati agar tak justru menimbulkan masalah matematika baru. Sebab, "harus  diingat bahwa Sangaku diciptakan dan ditampilkan terutama untuk kesenangan."

Seperti halnya sejumlah orang di masa itu yang hobi membuat puisi Jepang atau haiku dan kesenian lain. "Ada beberapa orang menikmati matematika, dan melihat sesuatu yang indah di dalamnya."

Tujuan dari sangaku ada tiga: memamerkan prestasi matematika, rasa syukur kepada Buddha dan Dewa, dan persembahan agar mereka dianugerahi pengetahuan matematika yang lebih.

Matematika sudah mengakar, menjadi tradisi di Negeri Sakura. Maka tak  mengherankan bahwa sudoku yang dimainkan orang saat ini, pertama kali populer di Jepang, sebelum menyebar menyeberangi lautan ke seluruh dunia.

Sumber: Huffington Post, Princenton University

© VIVA.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar