Selasa, 25 September 2012

Aplikasi iPad Ini Berisi Otak Einstein

Ini memungkinkan peneliti dan siswa untuk mengintip ke otak Einstein.


Albert Einstein
Albert Einstein (http://alberteinsteinquotes.info)
- Albert Einstein dikenal dunia sebagai sosok yang jenius. Teori relativitasnya kala itu menjadi pintu pengembangan teori fisika. Karena kejeniusannya, otak Einstein menjadi daya tarik bagi banyak orang.

Kini sebuah aplikasi iPad eksklusif membuat gambar yang detil dari otak Einstein. Dengan demikian bisa lebih mudah diakses oleh para ilmuwan, guru, mahasiswa dan siapa saja yang penasaran untuk mengetahui otak sang jenius berambut kriwil tersebut.

Upaya tersebut dilakukan oleh sebuah museum medis di Chicago yang memperoleh dana untuk memindai (scan) dan mendigitalisasi hampir 350 slide tak ternilai dari irisan otak Einstein pasca kematiannya di tahun 1955.

Aplikasi ini akan memungkinkan peneliti dan siswa untuk mengintip ke otak pemenang Nobel eksentrik itu, seolah-olah mereka melihat melalui mikroskop.

"Saya tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan mereka temukan," kata Steve Landers, seorang konsultan Museum Nasional Kesehatan dan Kedokteran Chicago yang merancang aplikasi, seperti dikutip dari laman Dawn.

Setelah Einstein meninggal dunia, ahli patologi bernama Thomas Harvey melakukan otopsi dan 'memindahkan' otak orang besar itu dengan harapan bahwa peneliti masa depan bisa menemukan rahasia di balik kejeniusannya.

Harvey memberikan sampel kepada para peneliti dan berkolaborasi dalam sebuah studi 1999 yang diterbitkan di Lancet. Penelitian tersebut menunjukkan salah satu wilayah otak Einstein, lobus parietalis, 15 persen lebih luas dari rata-rata otak yang dimiliki manusia. Lobus parietalis merupakan bagian penting untuk memahami matematika, bahasa dan perbandingan ruang.

Menurut Dr Phillip Epstein, seorang neuroscientist dan konsultan wilayah Chicago, aplikasi iPad terbaru tersebut memungkinkan para peneliti untuk menggali lebih dalam dengan mencari daerah otak di mana neuron lebih terhubung secara padat dari biasanya.

Tetapi karena jaringan itu diawetkan sebelum teknologi pencitraan modern, sulit bagi para ilmuwan untuk mencari tahu persis di mana setiap slide otak Einstein berasal. Meskipun aplikasi baru itu mengatur slide ke bagian otak umum, aplikasi tersebut tidak memetakan slide dengan presisi untuk model anatomi.

"Mereka tidak memiliki MRI. Kami tidak memiliki model tiga-dimensi dari otak Einstein, jadi kami tidak tahu dari mana sampel diambil," kata peneliti Jacopo Annese dari Observatorium Otak di University of California, San Diego.

Annese menambahkan slide Einstein yang berukuran 1 inci dan 3 inci pada aplikasi itu hanya mewakili sebagian kecil dari seluruh otak. Selain otak Einstein, Annese telah mengawetkan dan lakukan digitalisasi otak orang terkenal lain, yaitu Henry Molaison, yang meninggal pada tahun 2008 setelah hidup selama beberapa dekade dengan amnesia yang mendalam.

Dikenal sebagai "HM" dalam studi ilmiah, Molaison berpartisipasi selama hidupnya dalam penelitian yang mengungkapkan wawasan baru tentang pembelajaran dan memori.

Annese mengatakan, seluruh otak Molaison akan tersedia untuk publik dalam sebuah situs web pencarian pada Desember nanti. Gambar otak yang tersedia lebih dari 2.400 slide. "Akan ada lagi Einstein lain, dan kami akan melakukannya seperti HM," ujar  Annese.
Aplikasi otak Einstein, menurutnya akan memicu minat di bidang penelitian otak. "Ini adalah koleksi yang indah, telah dibuka untuk umum," kata Annese.

Beberapa orang mungkin bertanya apakah Einstein akan menginginkan gambar jenazahnya dijual ke non-ilmuwan untuk US$9,99? "Ada banyak perdebatan mengenai apa niat Einstein [mau diawetkan]," kata anggota museum, Jim Paglia.

"Kami tahu dia tidak ingin jenazahnya dijadikan seperti sirkus. Tapi dia mengerti nilai untuk penelitian dan ilmu pengetahuan untuk mempelajari otaknya, dan kami pikir kami telah membahasnya secara terhormat," kata Paglia.

Hasil penjualan aplikasi tersebut akan disumbangkan ke Museum Kesehatan dan Kedokteran, Departemen Pertahanan dan Keamanan Amerika Serikat di Silver Spring, Maryland, dan untuk museum Chicago, yang dibuka pada 2015 dengan pameran interaktif dan koleksi digital museum.

© VIVA.co.id  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar