Minggu, 27 Januari 2013

Usai Partikel Tuhan, Giliran Misteri Gravitasi Dikuak

Proyek baru untuk menguak misteri besar alam semesta.


Data visual yang dihasilkan Large Hardon Collider (LHC)
Data visual yang dihasilkan Large Hardon Collider (LHC)  
Setelah gegap gempita penemuan partikel baru yang 99,999 persen diyakini mendekati Higgs Boson alias "partikel Tuhan", Center for Nuclear Research (CERN) tak lantas berpuas diri.

Tim CERN saat ini sedang merencanakan proyek baru untuk menguak misteri besar alam semesta, yang baru sebagian kecilnya saja diketahui manusia. Namun, mimpi baru itu membutuhkan sarana, dan tentu saja modal besar.

Tim mengusulkan pembangunan kolider (collider) atau akselerator partikel baru bawah tanah dengan panjang 50 mil atau 80 kilometer, hampir tiga kali ukuran (Large Hadron Collider) yang saat ini berada di bawah tanah Jenewa, yang memiliki panjang 27 kilometer.

Apa yang sebenarnya hendak diungkap oleh para ilmuwan? 

Ternyata, gravitasi adalah area kunci yang akan dikerjakan oleh tim menggunakan kolider baru. Kolider tersebut akan digunakan untuk mengungkap bagaimana gravitasi berinteraksi pada tingkat molekuler.

Saat ini masih belum jelas bagaimana gravitasi bisa bekerja baik pada level partikel, atau pada tingkatan planet, bintang, dan sistem tata surya.

Tim CERN mengaku khawatir penemuan ilmiah ini akan mandeg, hanya karena menunggu pembangunan kolider baru. Kegelisahan itu bukan tanpa alasan, melihat pengalaman Peter Higgs. Penemu teori Higgs Boson itu harus menunggu 58 tahun, sejak merumuskan teorinya pada 1964, hingga penemuan partikel mirip Higgs Boson di tahun ini.

Sementara, kolider pemercepat partikel terkait Higgs Boson sudah diusulkan pada tahun 1983, namun tak kunjung dikerjakan hingga tahun 1998. Dan baru selesai dibangun pada tahun 2008. Sungguh lama.

Apalagi, para ilmuwan menyadari, kolider baru tidak mungkin dibangun sampai tahun 2025. Namun tim CERN berpendapat, lebih cepat, lebih baik.
Large Hadron Collider

Dua opsi
Selain mengajukan proposal, tim saat ini juga sedang mempertimbangkan berbagai opsi setelah akselerator partikel yang ada saat ini, yang bernilai US$4,5 miliar, telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Alias purnatugas.

Opsi pertama dengan memanfaatkannya, sementara pilihan lainnya adalah dengan meruntuhkan kolider di terowongan sepanjang 27 kilometer yang melingkar di bawah tanah dekat Danau Jenewa, lalu membangun infrastruktur yang lebih sensitif di lokasi itu.

Skema apapun yang dipilih, pastinya akan menelan dana miliaran dolar, yang bebannya akan dibagi ke 20 negara anggota CERN.

Saat ini tim yang terdiri dari 18 ilmuwan sedang menyusun roadmap CERN, termasuk desain mesin baru. "Mesin baru ini bisa diinstal di terowongan LHC. Atau sebagai alternatif, dipasang di terowongan baru yang lebih panjang, menggunakan terowongan sepanjang 80 kilometer," demikian laporan tim.

Kepada The Australian, Jon Butterworth, profesor fisika dari University College London, yang mewakili Inggris dalam tim menegaskan, penelitian terbaru itu sangat penting. "Kita sedang menuju ke perbatasan baru dalam fisika, yang liar, menunggu untuk dieksplorasi." 

Jon Butterworth menambahkan, manusia butuh untuk lebih jauh menguak fakta tentang gravitasi. Sebuah hasil yang layak dikejar dan menuntut kerja keras.

Soal perlu tidaknya kolider baru, ia berpendapat. "Bisa dengan memperbarui LHC, namun pada akhirnya kita membutuhkan mesin yang lebih kuat." (Daily Mail

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar