Kamis, 10 Januari 2013

Pakar Reptil Dunia Berbagi Pengalaman Ekstrem di Jakarta



Yunanto Wiji Utomo Brady Barr
JAKARTA, KOMPAS.com — Minggu (9/12/2012), mal Gandaria City, Jakarta Selatan, diramaikan oleh ular piton dan jenis reptil lain seperti iguana dan biawak. Bukan lantaran hewan liar itu lepas, melainkan seorang pakar reptil dunia sedang berkunjung ke Jakarta.

Pakar reptil dunia itu adalah Brady Barr. Ia didatangkan ke Indonesia atas kerja sama Indovision dan Fox International, untuk mempromosikan acara di National Geographic Channel yang dipandunya, "Dangerous Encounters".

Brady Barr berbagi pengalaman ekstrem setelah selama 20 tahun berhubungan dengan satwa liar, terutama reptil. Ia mengatakan, "Saya adalah satu-satunya herpetolog (pakar reptil) yang telah mempelajari 23 spesies buaya," katanya.

Barr menguraikan bahwa dirinya telah menjelajahi banyak ekosistem, mulai padang rumput kering tempat beragam reptil berada, gurun tempat banyak fosil dinosaurus ditemukan, hingga lautan tempat hiu dan gurita hidup.

Dalam acara hari ini, Barr menunjukkan beberapa foto saat ia berkalung piton, bagian atas mulut buaya terbesar, berada di antara kawanan ular berbisa, hingga berfoto di bawah laut, tepat di sebelah gurita raksasa.

"Saya tidak pernah menyangka dalam hidup saya, saya bisa bertemu salamander raksasa, gajah, beruang kutub, badak, ular, dan buaya. Ini karena kesempatan yang saya miliki karena saya bergabung dengan National Geographic," katanya.

Barr mengungkapkan kekagumannya akan alam Indonesia. Menurutnya, Indonesia adalah negara yang teberkati karena memiliki begitu banyak pulau beserta keanekaragaman hayatinya. Karena ekspedisi di Indonesia pula, ia mendapatkan perhatian media internasional.

"Saya pergi di sebuah gua di Flores (Istana Ular). Itu gua yang di mana-mana adalah ular. Di atas, di depan, dan belakang saya. Di sana pula saya digigit piton. Begitu banyak perhatian media saat itu," paparnya.

Dalam berita MSNBC, 15 Oktober 2007, Barr mengungkapkan, "Gua itu merupakan sebuah liang atau ruang horor, mungkin merupakan tempat terburuk sejak 10 tahun saya bekerja bersama National Geographic."

Saat digigit ular tersebut, Barr harus berjuang naik ke mulut gua. Gigitan piton yang sebenarnya tak berbisa sendiri menjadi berbahaya karena di gua, Barr berinteraksi dengan kotoran kelelawar. Baru 27 jam setelah kejadian, ia bisa dibawa di rumah sakit di Singapura.

Selama bertahun-tahun bergelut dengan binatang buas, Barr mengungkapkan bahwa rasa takut masih tetap ada. Ia menambahkan, rasa takut memang harus selalu ada. "Dari ketakutan, kita bisa berupaya untuk tetap waspada," cetusnya.

Ia juga mengungkapkan betapa berbahaya bekerja dengan satwa liar sekaligus kamera. Ia menunjukkan salah satu rekaman ketika ular yang sedang dipegangnya justru menyerang saat ia memberi penjelasan ke arah kamera.

"Bekerja menjadi pemandu acara seperti 'Dangerous Encounters' lebih berbahaya. Kita harus berhadapan dengan kamera sekaligus dengan satwa liar. Saat mata kita menghadap kamera, kita tidak tahu yang akan terjadi selama satu-dua detik ke depan," terangnya.

Barr lahir pada tahun 1963. Meraih gelar doktor dari University of Miami, ia mulai bekerja dengan National Geographic sejak tahun 1997. Selain di Indonesia, ia telah melakukan ekspedisi di Kamboja, Guyana-Perancis, Brazilia, dan Afrika.

Ia mengatakan, ambisi terbesarnya kini adalah pendidikan sains untuk anak-anak. "Saya ingin anak-anak mengenal satwa liar. Anda yang di Indonesia beruntung bisa mengenal satwa liar lebih dekat."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar