Sabtu, 22 September 2012

Tahanan Amerika Serikat di Guantanamo Tewas



 Miami - Seorang tahanan ditemukan tewas di penjara pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Guantanamo. "Dua hari setelah penemuan (mayat) tersebut, sel tahanan diisolasi dan keamanan penjara ditingkatkan," ujar militer Amerika Serikat kepada media, Selasa, 11 September 2012.
Pejabat militer Amerika Serikat, Selasa, mengatakan nama tahanan belum teridentifikasi dan asal negara yang bersangkutan juga belum bisa disampaikan kepada keluarganya. Menurut Komandan Pasukan Amerika Serikat di Wilayah Selatan, jasad tahanan itu ditemukan oleh sipir penjara yang sedang melakukan pemeriksaan rutin.
"Tahanan ditemukan dalam keadaan tidak sadar dan tak memberikan respons saat dibangunkan," demikian pernyataan militer AS. "Setelah dilakukan penyelamatan ekstensif, dokter menyatakan nyawa korban tak bisa ditolong."
Tahanan ini merupakan korban kesembilan yang tewas dalam penjara sejak fasilitas untuk "kaum teroris atau kelompok yang memiliki kaitan dengan Al-Qaeda dan Taliban" ini dibuka pada Januari 2002. Penjara di Teluk Guantanamo dihuni 779 orang--167 di antaranya masih menjadi penghuni tetap penjara.
Seorang ahli medis dikirim ke pangkalan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Sedangkan penyelidikannya akan dilakukan oleh Dinas Investigasi Kriminal Angkatan Laut. Setelah diotopsi, mayat itu akan dikirim ke keluarganya.
Pria yang tewas ini menempati Camp Five, sebuah penjara yang memiliki fasilitas keamanan maksimum karena dianggap pernah melakukan pelanggaran kamp. "Dia dalam pengawasan ketat sebab pernah menyerang tubuh penjaga dengan cairan cocktail," ujar seorang anggota militer.
Menurut juru bicara pangkalan militer Amerika Serikat di Miami, Jose Ruiz, Camp Five merupakan rumah tahanan yang memiliki tingkat penjagaan tinggi untuk mencegah ancaman terhadap tahanan, petugas, atau penjaga.
Sebelumnya, dua tahanan meninggal di kamp ini secara wajar. Sementara enam tahanan lainnya tewas akibat bunuh diri, hampir semuanya gantung diri.

courtesy AL JAZEERA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar