Rabu, 26 September 2012

Acara TV: Patung di Easter Island Bukti Alien di Bumi

Pulau itu dulu tak terpencil. Penduduknya di masa lalu mencapai ribuan

Patung di Easter Island
Patung di Easter Island (express.co.uk)
BERITA TERKAIT


VIVAnews -- Easter Island, Pulau Paskah, sebuah daratan di selatan Samudera Pasifik, wilayah Chili, terkenal dengan deretan patung-patung batu besar (Moai) berusia lebih dari 400 tahun yang berbaris sepanjang garis pantai.

Pahatan berbentuk kepala manusia itu sekian lama menjadi obyek penelitian arkeologi. Juga misteri tulisan yang dikenal dengan Rongorongo, yang sampai saat ini belum dapat diuraikan oleh para ahli bahasa dari berbagai generasi.

Baru-baru ini, sebuah serial televisi Inggris, Wild Pacific membangkitkan klaim bahwa patung-patung raksasa itu dibuat, atau setidaknya dipengaruhi mahluk ekstraterresterial.

"Apakah mahluk ekstraterrestrial mengunjungi bumi..Siapa yang membangun patung Moai raksasa Pulau Paskah yang disebut 'tugu peringatan' dari peradaban alien," demikian narasi acara tersebut seperti dimuat Discovery.

Untuk diketahui, gagasan bahwa alien mengunjungi peradaban di masa lalu telah berkembang selama beberapa dekade. Yang paling menonjol dipromosikan oleh Erich von Daniken, penulis klasik pseudosains, Chariots of the Gods?: Unsolved Mysteries of the Past. Von Daniken yakin, misalnya, bahwa orang Mesir kuno memiliki ketidakcerdasan maupun alat untuk membuat piramida Giza, jadi ia percaya ada campur tangan alien di sana. Klaim serupa juga dibuat untuk piramida Maya di Amerika Tengah dan gambar raksasa di gurun Nazca, Peru. Namun, para arkeolog dan ilmuwan lainnya telah lama mengabaikan teori yang tidak didukung bukti sahih itu.

Kembali ke asal-usul patung besar di Pulau Paskah, seperti dikutip Discovery, narasi dalam serial itu menyebut, "asal-usul batu itu telah membuat jengkel para ahli selama beberapa dekade? Siapa yang membangun patung-patung batu raksasa itu dan bagaimana mereka sampai di sana, di pulau terpencil di Pasifik?"

Fakta
Namun tak sampai harus melibatkan mahluk lain nun jauh di luar angkasa sana, sudah lama para arkeolog mengetahui siapa yang sejatinya membangun Moai: orang-orang yang tinggal di pulau itu di masa lalu, bukan orang-orang Mars atau tamu jauh dari luar bumi.

Lantas bagaimana patung raksasa sampai di sebuah pulau terpencil di Pasifik? Arkeolog punya jawabannya. Yakni bebatuan, atau sebenarnya adalah abu vulkanik yang bisa dipres dan dipahat dengan mudah itu, dibawa dari gunung yang disebut Rano Raraku di timur laut pulau tersebut. Abu tersebut diangkut menggunakan tambang dan kayu ke sejumlah titik di sepanjang garis pantai.

Jadi, tidak ada hal yang misterius tentang dari mana asal Moai, apalagi ada fakta, ratusan patung ditemukan masih terkubur dan hanya sebagian dipahat dari sisi gunung berapi Rano Raraku.

Satu-satunya pertanyaan yang belum terjawab adalah, mengapa mereka mengukir bebatuan itu. Para peneliti berpendapat, bahwa setiap patung, bagian pinggang ke bawah telah terkubur tanah, menyisakan kepala, mewakili kepala keluarga atau klan yang telah meninggal.
Pulau itu dulu tak terpencil. Penduduknya di masa lalu yang diyakini mencapai ribuan, berkurang hingga lenyap akibat perang, perbudakan, dan penyakit.

Tak ada misteri yang tersisa yang harus dijawab, termasuk spekulasi liar tentang makhluk luar angkasa.  Sayangnya sejarah tradisi budaya dari peradaban kuno sering dibayangi oleh teori-teori sensasional dan fiksi tentang alien.

Sebelumnya, dalam penelitian yang dilakukan akhir tahun lalu diketahui, patung-patung yang awalnya diperkirakan dibuat secara serampangan, ternyata buatan sebuah masyarakat yang sadar kelas. "Tampaknya ada korelasi antara ukuran patung dan posisi sosial mereka yang mengukir itu," kata arkeolog asal Amerika Serikat, Jo Anne Van Tilburg,

Satu patung, secara utuh, memiliki tinggi 69 kaki dengan berat 270 ton. Sedangkan di bagian yang menancap ke tanah dari beberapa patung memiliki kedalaman sekitar 50 kaki.

Patung-patung itu dibangun oleh penduduk Polinesia antara tahun 1.250 dan 1.500. Pembangunan ini dimaksudkan untuk menggambarkan wajah hidup nenek moyang Moai yang telah mati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar